PINUPAZOYUN.COM – Menu kering MBG selama Ramadan menjadi perbincangan publik setelah sejumlah orang tua dan warganet mempertanyakan kualitas makanan yang diterima siswa.
Pemerintah melalui pelaksana program di daerah hingga pusat menegaskan bahwa paket yang dibagikan tetap memenuhi standar gizi dan mengikuti ketentuan anggaran.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di berbagai daerah tetap berjalan selama bulan puasa, namun dengan penyesuaian bentuk makanan.
Untuk siswa sekolah yang berpuasa, paket diberikan dalam bentuk kering agar bisa dibawa pulang dan dimakan saat berbuka.
Di sejumlah wilayah seperti Kabupaten Tuban, menu MBG sempat dikritik karena dianggap tidak sebanding dengan anggaran yang disebut mencapai Rp15.000 per porsi.
Foto paket berisi roti kecil, buah, atau camilan sederhana yang beredar di media sosial memicu pertanyaan soal transparansi dana, standar gizi, hingga distribusi makanan.
Menanggapi hal tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) menjelaskan bahwa total anggaran Rp13.000–Rp15.000 per porsi tidak seluruhnya untuk bahan makana.
Dana untuk bahan baku hanya sekitar Rp8.000 bagi balita hingga siswa kelas rendah SD, dan Rp10.000 untuk siswa kelas atas serta kelompok lain.
Sisanya digunakan untuk operasional, distribusi, relawan, hingga fasilitas dapur.
BGN juga menegaskan bahwa pembagian ini sebenarnya sejalan dengan kebijakan sebelumnya yang menyebut anggaran Rp15.000 per porsi, karena nilai tersebut memang terdiri dari beberapa komponen, bukan hanya biaya makanan.
Sementara itu, di Kota Singkawang, koordinator SPPG setempat memastikan menu kering yang dibagikan tetap dirancang sesuai standar nutrisi.
Paket biasanya berisi roti, buah, telur, kacang, dan kurma yang dinilai sudah mencakup energi, protein, lemak, karbohidrat, serta serat.
Menu kering dipilih agar siswa bisa mengonsumsinya saat waktu berbuka, sedangkan sekolah non-Muslim tetap menerima makanan basah seperti nasi, lauk, sayur, dan buah.
Pelaksana di daerah juga menyatakan perhitungan kandungan gizi dilakukan sebelum menu ditetapkan, dan evaluasi akan terus dilakukan berdasarkan masukan masyarakat.
Hal serupa terjadi di Lampung. Kepala SPPG Labuhan Ratu menyebut distribusi MBG untuk sekolah tetap dilakukan setiap hari pada pagi atau siang, tetapi dalam bentuk kering mengikuti arahan BGN.
Contoh paket yang dibagikan antara lain roti, susu, dan kurma, dengan penggunaan tas khusus yang dipakai bergantian untuk efisiensi.
Untuk pesantren, sekolah berasrama, serta kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, makanan tetap diberikan dalam bentuk siap santap menjelang berbuka. Menu basah tersebut biasanya berupa nasi, lauk, sayur, dan buah.
Sejumlah siswa mengaku lebih menyukai menu basah seperti sebelum Ramadan, bahkan ada yang mengusulkan bantuan diganti uang sementara waktu.
Beberapa orang tua juga menilai menu kering perlu ditingkatkan kualitasnya atau diganti dengan makanan yang lebih tahan lama agar tidak cepat rusak.
Meski begitu, ada pula wali murid yang tetap mendukung program MBG berjalan selama Ramadan selama kandungan gizinya terjaga.
Pemerintah menegaskan tujuan utama program ini adalah memastikan anak-anak tetap mendapatkan asupan gizi yang cukup.
Karena itu, setiap dapur MBG diwajibkan melibatkan ahli gizi untuk memastikan makanan yang dibagikan memenuhi standar nutrisi, dan laporan masyarakat akan ditindaklanjuti jika ditemukan ketidaksesuaian.