PINUPAZOYUN.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat Jabodetabek untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan terjadi sejak pertengahan hingga akhir Januari 2026.
Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, disertai petir dan angin kencang, berpeluang terjadi di sejumlah wilayah.
BMKG menyebut, hujan lebat sudah mulai terpantau sejak Minggu pagi, 18 Januari 2026 pada pukul 05.25 hingga 07.00 WIB.
Kondisi ini diprediksi tidak hanya berlangsung singkat, tetapi berpotensi berlanjut hingga Jumat, 23 Januari 2026.
“Potensi hujan lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang dipengaruhi oleh kombinasi beberapa gangguan atmosfer yang membuat awan hujan mudah terbentuk dan berkembang,” tulis BMKG dalam keterangan resminya.
Wilayah Jakarta dan Sekitarnya Masuk Zona Waspada
Sejumlah wilayah DKI Jakarta masuk dalam kategori waspada cuaca ekstrem. Di Jakarta Utara, potensi hujan lebat diprediksi terjadi di kawasan Penjaringan, Tanjung Priok, Koja, Cilincing, dan Pademangan.
Sementara itu Jakarta Barat juga diprediksi diguyur hujan intensitas tinggi, khususnya di wilayah Tambora, Taman Sari, Kalideres, dan sekitarnya.
Wilayah lain di Jakarta diperkirakan mengalami hujan dengan intensitas bervariasi.
Bogor, Bekasi, dan Tangerang Berpotensi Diguyur Hujan Intensitas Tinggi
Bukan hanya kota Jakarta aja, wilayah lain juga berpotensi terdampak cuaca ekstrem BMKG.
Di Kabupaten Bogor, hujan lebat diperkirakan terjadi di kawasan Cisarua, Jonggol, Cileungsi, Gunung Putri, Klapanunggal, hingga sekitarnya.
Kabupaten dan Kota Bekasi juga masuk dalam wilayah rawan, seperti Tambun, Babelan, Cikarang, Muaragembong, dan wilayah perkotaan Bekasi.
Sementara di Tangerang dan Tangerang Selatan, hujan sedang hingga lebat berpotensi turun terutama pada sore hingga malam hari.
Kelembapan udara yang tinggi di berbagai lapisan atmosfer turut memperbesar peluang terjadinya hujan dengan durasi dan intensitas yang cukup signifikan.
Bibit Siklon dan Aliran Udara
Salah satu pemicu utama cuaca ekstrem adalah keberadaan Bibit Siklon Tropis 96S dan 97S di sekitar wilayah Indonesia.
Bibit siklon ini memicu perlambatan angin dan peningkatan suplai uap air.
Selain itu, masuknya aliran udara dingin dari Asia (cold surge), serta aktifnya gelombang atmosfer Rossby dan Kelvin, semakin memperkuat pertumbuhan awan hujan di wilayah barat Pulau Jawa.
Periode Cuaca Ekstrem Diperkirakan Berlangsung Hingga 23 Januari 2026
BMKG memprediksi puncak cuaca ekstrem berpotensi terjadi dalam rentang 18–23 Januari 2026. Pada periode ini, hujan lebat diperkirakan lebih dominan terjadi di wilayah Kepulauan Seribu dan Kabupaten Bogor, meskipun wilayah Jabodetabek lainnya tetap berpotensi terdampak.
Risiko Banjir dan Pohon Tumbang Perlu Diantisipasi
Cuaca ekstrem BMKG ini berpotensi menimbulkan sejumlah dampak, mulai dari genangan air, banjir, tanah longsor, hingga pohon tumbang.
Angin kencang juga berisiko merusak bangunan ringan dan mengganggu aktivitas transportasi.
Masyarakat yang tinggal di bantaran sungai, daerah dataran rendah, serta kawasan perbukitan dihimbau untuk meningkatkan kewaspadaan.
BMKG juga menyarankan masyarakat untuk rutin memantau pembaruan informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG, seperti aplikasi InfoBMKG dan media sosial resmi, guna mendapatkan peringatan dini yang akurat dan terkini.